Mal Adaptif dan Stress Akademik
MASALAH-MASALAH PERILAKU DALAM PEMBELAJARAN
(MaladaptifdanStresAkademik)
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
PsikologiPendidikan
Dosen pembimbing :

Disusun oleh:
Gabriela R W Tampubolon (1405773)
NuningYuningsih (1407115)
PramitaHotmaritoSihombing (1403823)
RiskiDestiyanti (1404810)
TitaKholiah (1401697)
Yuri MeiskaOctari (1401597)
JURUSAN PENDIDIKAN KHUSUS
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PEDIDIKAN INDONESIA
2014
KATA
PENGANTAR
Segala puja dan puji
hanya milik Allah SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya
yang tiada terhingga besarnya, sehingga kami
dapat menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah PsikologiPendidikan, yaitu pembuatan
makalah dengan judul “Masalah-MasalahPerilakudalamBelajar (Maladaptive dan
Stress Akademik)”. Dalam menulis makalah ini, kami mendapatkan banyak
bantuan dari berbagai pihak sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Kami menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen
pembimbing yang memberikan bimbingan atas rampungnya makalah ini. Kepada beliau
penulis haturkan banyak terima kasih karena telah memberikan banyak saran dan
masukan yang berharga serta motivasi dalam makalah ini. Semoga semua ini bisa
memberikan sebuah kebahagiaan dan memberikan tuntunan menuju langkah yang lebih
baik lagi.
Kami
pun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena
kesempurnaan hanya milik Allah. Oleh karena
itu, kami minta maaf atas segala kekurangan yang ada. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan masyarakat luas. Semoga Allah selalu membimbing
kita dalam menapaki setiap jalan yang akan kita tempuh. Aamiin.
Bandung, Oktober
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. LatarBelakang........................................................................................ 1
B. RumusanMasalah................................................................................... 1
C. Tujuan..................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 2
A. Masalah-MasalahPerilakudalamBelajar.................................................. 2
B. Maladaptif.............................................................................................. 4
C. StresAkademik....................................................................................... 8
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 12
A. Kesimpulan............................................................................................. 12
B. Implikasi................................................................................................. 12
DAFTAR
PUSTAKA ..................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap individu
berhak mendapatkan pendidikan yang layak, begitulah semua orang berkata. Namun,
aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung
secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak.Demikan kenyataan yang
sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam
kaitanya dengan aktivitas belajar.
Dalam keadaan
dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah
yang disebut dengan “kesulitan belajar”.Banyak guru yangmendefinisikan masalah-masalah
perilaku dalam belajar adalah hal yang bertentangan dalam proses belajar
mengajar.
Hal tersebut
salah satu yang menjadi acuan bagi setiap penggerak kehidupan di dunia ini
untuk mewujudkan pendidikan untuk semua atau Education for All, seperti yang di
definisikan oleh UNESCO pada tahun 1994.Oleh sebab itu, untuk mewujudkanya,
dibutuhkan pengetahuan mengenai permasalahan perilaku dalam belajar khususnya maladaptif
dan stres academic oleh pihak-pihak terkait agar semua pihak tahu dan menyadari
hal hal yang perlu di lakukan untuk mendidik anak anak yang memiliki masalah
dalam belajar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang menjadi faktor-faktor penyebab
masalah perilaku dalam belajar?
2.
Bagaimana pandangan umum mengenai
maladaptif dan stres akademik?
3.
Bagaimana solusi masalah perilaku dalam
belajar diimplikasikan pada pendidik?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
faktor-faktor penyebab masalah perilaku dalam belajar.
2. Mengetahui
pandangan umum mengenai maladaptif dan stres akademik.
3. Mengetahui
solusi masalah perilaku dalam belajar diimplikasikan pada pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Masalah-Masalah
Perilaku dalam Belajar
Aktivitas
belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar.
Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dengan cepat menangkap
apa yang di pelajari, dan kadang-kadang terasa amat sulit. Demikan kenyataan
yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari hari yang
berkaitan dengan aktivitas belajar.
Dalam
keadaan dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya,
itulah yang disebut dengan “kesulitan belajar”.
Faktor-Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar, antara lain :
a)
Faktor
Intern
Faktor
intern, yaitu faktor dari dalam diri manusa itu sendiri.Adapun yang termasuk
faktor intern adalah sebagai berikut.
1.
Kesulitan belajar karena sakit.
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris
dan motorisnya lemah untuk meneruskan rangsangan ke otak.
2.
Karena kurang sehat. Anak yang kurang
sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capai, mengantuk,
pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat dan pikiran terganggu.
Karena hal-hal ini maka penerimaan dan respon
pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal
memproses, mengelola, menginterpretasi dan mengorganisasi bahan pelajaran
melalui inderanya.
3.
Karena cacat tubuh. Cacat tubuh
dibedakan atas :
1)
Cacat tubuh yang ringan. Seperti kurang
pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor.
2)
Cacat tubuh yang tetap (serius). Seperti
buta, tuli, bisu, dan hilang tangan/kakinya.
4.
Karena Rohaninya terganggu
5.
Inteligensi. Semakin tinggi IQ seseorang
akan semakin cerdas pula, sedangkan mereka yang mempunyai IQ kurang dari 90
tergolong lemah mental.
6.
Bakat. Bakat adalah potensi atau
kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Apabila seorang anak harus mempelajari
bahan yang lain dari bakatnya akan cepat bosan, mudah putus asa, dan tidak
senang.
7.
Minat. Tidak adanya minat seorang anak
terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Karena itu pelajaran
pun tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan.
8.
Motivasi. Motivasi berfungsi
menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat
menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar
motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya dan sebaliknya.
9.
Faktor kesehatan mental.
10.
Tipe-tipe khusus seorang pelajar. Ada
tipe visual (cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis,
bagan, grafik, gambar), tipe auditif (mudah mempelajari bahan yang disajikan
dalam bentuk suara, diskusi), dan tipe motorik (mudah mempelajari bahan yang
berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan).
b)
Faktor
Keluarga
Keluarga
merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Faktor keluarga, meliputi :
1.
Faktor orang tua. Meliputi cara mendidik
anak, hubungan orang tua dengan anak, contoh atau bimbingan dari orang tua.
2.
Suasana rumah atau keluarga.
3.
Keadaan ekonomi keluarga.
c)
Faktor
Sekolah
1. Guru.
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar apabila guru tidak kualified,
hubungan guru dengan murid kurang baik, guru-guru menuntut standar pelajaran di
atas kemampuan anak, guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis
belajar, metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar.
2.
Faktor alat. Alat pelajaran yang kurang
lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik.
3.
Gedung. Kondisi gedung ditunjukan pada
ruang kelas/ ruangan tempat belajar anak yang harus memenuhi syarat kesehatan.
4.
Kurikulum yang kurang baik, misalnya
bahan-bahannya terlalu tinggi, pembagian bahan tidak seimbang atau adanya
pendataan materi.
5.
Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
d)
Faktor
Mass Media dan Lingkungan Sosial
1.
Faktor mass media, meliputi bioskop, tv,
surat kabar, majalah, buku buku komik yang ada di sekeliling kita. Hal itu akan
menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk
itu hingga lupa akan tugasnya belajar.
2.
Lingkungan sosial, meliputi teman
bergaul, lingkungan tetangga, dan aktivitas dalam masyarakat.
B.
Maladaptif
1.
Pengertian
Maladaptif
Maladaptif
adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa
kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikisosial kepribadian pada masa dewasa
yang harmonis.Namun, menurut bidang psikologi,maladaptif behavior adalah
tingkah laku yang tidak efektif dalam menerima tujuan atau cita-citanya dan/atau
konsekuensinya tak dikehendaki oleh yang lain. Misal, anak-anak yang menarik
diri, tidak matang, rendah harga diri atau murung biasanya mempunyai sedikit
teman atau bermain dengan anak-anak yang jauh lebih muda dari pada mereka
sendiri. Beberapa siswa memperlihatkan phobia sekolah dengan menolak untuk
datang ke sekolah atau melarikan diri dari sekolah. Berbeda dari anak yang
agresif, yang dapat terlihat benar-benar normal ketika mereka tidak agresif,
anak anak menarik diri dan tidak makan, tampak aneh atau janggal setiap
saat.Mereka hampir selalu mengalami ketiadaan kemampuan soisal.
2.
Komponen-Komponen
Maladaptif
a.
Gambaran Diri/Citra
Tubuh ( Body Image )
Gambaran
diri adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya secara sadar
dan tidak sadar. ( Stuart dan Sundeen, 1998 )
b.
Ideal Diri (
Self Ideal )
Ideal
diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. (
Stuart dan Sundeen, 1998 )
c.
Harga Diri (
Self Esteem )
Harga diri adalah penilaian
individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik
perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. (Stuart dan Sundeen, 1998)
d.
Peran ( Role
Performance )
Peran
adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial
berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial.( Stuart dan
Sundeen, 1998 ).
e.
Identitas (
Identity )
Identitas
adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab
terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu.(Stuart
dan Sundeen, 1998).
3.
Ciri
Perilaku Maladaptif
a. Perilaku yang berhubungan dengan gangguan peran
·
Mengungkapkan ketidakpuasan perannya
atau kemampuan menampilkan peran.
·
Mengingkari atau menghindari peran.
·
Kegagalan transisi peran.
·
Ketegangan peran.
·
Kemunduran pola tanggung jawab yang
biasa dalam peran.
·
Proses berkabung yang tidak berfungsi.
·
Kejenuhan pekerjaan.
b.
Perilaku yang
berhubungan dengan Harga Diri yang Rendah
·
Mengeritik diri sendiri dan / atau orang
lain.
·
Penurunan produktivitas.
·
Destruktif yang diarahkan pada orang
lain.
·
Gangguan dalam berhubungan.
·
Rasa diri penting yang berlebihan.
·
Perasaan tidak mampu.
·
Rasa bersalah.
·
Mudah tersinggung atau marah berlebihan.
·
Perasaan negatif mengenai tubuhnya
sendiri.
·
Ketegangan peran yang dirasakan.
·
Pandangan hidup yang pesimis.
·
Keluhan fisik.
·
Pandangan hidup yang bertentangan.
·
Penolakan terhadap kemampuan personal.
·
Destruktif terhadap diri sendiri.
·
Pengurangan diri.
·
Menarik diri secara sosial.
·
Penyalahgunaan zat.
·
Menarik diri dari realitas.
·
Khawatir.
c.
Perilaku yang
berhubungan dengan Kerancuan Identitas
·
Tidak ada kode moral.
·
Sifat kepribadian yang bertentangan.
·
Hubungan interpersonal eksploitatif.
·
Perasaan hampa.
·
Perasaan mengambang tentang diri
sendiri.
·
Kerancuan gender.
·
Tingkat ansietas yang tinggi.
·
Ketidakmampuan untuk empati terhadap
orang lain.
·
Kehilangan keautentikan.
·
Masalah intimasi.
d.
Perilaku yang
berhubungan dengan gangguan Gambaran Diri
·
Menolak untuk melihat dan menyentuh
bagian yang berubah.
·
Tidak dapat menerima perubahan struktur
dan fungsi tubuh.
·
Perasaan atau pandangan negatif terhadap
tubuh.
·
Preokupasi dengan bagian tubuh atau
fungsi tubuh yang hilang.
·
Menolak penjelasan tentang perubahan
tubuh.
e.
Perilaku yang
berhubungan dengan gangguan Ideal diri
·
Perasaan tidak realistis.
·
Mengalami dunia seperti dalam mimpi.
·
Gangguan berfikir.
·
Kehilangan kendali terhadap
cita-cita atau harapan.
·
Cita–cita yang terlalu tinggi dan tidak
realistis.
·
Harapan kedepan yang terlalu tinggi.
·
Perasaaan untuk tidak punya hak untuk
gagal dan berbuat kesalahan.
·
Membuat standar yang tidak dapat
dicapai.
4.
Menghadapi
Perilaku Maladaptif
Salah satu wujud pengaruh negatif
globalisasi adalah meningkatnya perilaku “maladaptif” di kalangan
remaja.Prilaku maladaptif pada dasarnya merupakan manifestasi dari kurang
trampilnya (Lack of Skills) remaja dalam aspek intraper-sonal dan/atau
interpersonal. Ada beberapa cara untuk menanganinya:
a.
Menurut strategi intervensi minor yang
efektif anatara lain adalah:
·
Menggunakan syarat non verbal
·
Terus lanjutkan belajar
·
Dekati murid
·
Arahkan perilaku
·
Beri intruksi yang dilakukan
·
Suruh murid berhenti dengan nada tegas
dan langsung
·
Beri murid pilihan
b.
Menurut intervensi moderat:
·
Jangan memberi privilese atau aktivitas
yang mereka inginkan
·
Buat perjanjian behavioral
·
Pisahkan atau keluarkan murid dari kelas
·
Kenakan hukuman atau sanksi
c.
Self-Regulation
Self-regulation merupakan salah
satu tema sentral dalam teori kognisi sosial. Menurut Bandura,1986 (dalam
Zimmerman, 2000) Self-regulation merupakan interaksi proses-proses triadic dari
faktor personal, prilaku, dan lingkungan. Self-regulation berkaitan erat dengan
penetapan tujuan dan orientasi-orientasi
tujuan individu, yang menggerakkannya secara sadar dan aktif untuk
menyusun rencana dan strategi pencapaian; diikuti dengan upaya koordinasi dan
pendayagunaan segenap potensi pikiran, emosi dan prilaku menuju tujuan yang
ditetapkan.
C.
Stres
Akademik
1.
Konsep
Stres Akademik
Stres
dapat dimaknai sebagai suatu kondisi dinamis saat individu dihadapkan pada
peluang, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan
oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang pasti dan penting.
Dalam khasanah psikologi,
khususnya dalam kajian tentangstres, istilah “stres akademik” merupakan istilah
yang relatif baru dalam literatur-literatur ataupun dalam penelitian psikologi.
Stres akademik
adalah perasaan tidak nyaman yang dialami oleh siswa akibat adanya tuntutan
sekolah yang dinilai menekan, sehingga memicu terjadinya ketegangan fisik,
psikologis, dan perubahan tingkah laku, serta dapat memengaruhi prestasi
belajar mereka.
Menurut Franz
Alexander, walaupun terlantar oleh biologi dan obat obatan, fakta bahwa tubuh
dikuasa oleh pikiran adalah yang paling fundamental yang kita ketahui mengenai
proses kehidupan.
Maka meskipun
anak tersebut sehat secara biologis dan terlihat sehat, belum tentu mereka
sehat secara psikologis, karena faktor kesehatan psikologis juga sangat
berperan penting dalam menunjang kehidupan dan segala yang anak pikirkan sangat
berpengaruh pada keadaan psikologisnya. Hal itulah yang harus kita perhatikan.
2.
Sumber
Stres Akademik
Sekolah
merupakan sebuah sistem sosial dengan struktur organisasi yang kompleks.
Bahkan, Arends (1998) secara tegas mengatakan bahwa sekolah dalam banyak hal
memiliki kesamaan dengan organisasi-organisasi lain yang ada di dalam
masyarakat, dengan kata lain sekolah merupakan sumber stres akademik siswanya.
·
Physical
Demands ( Tuntutan Fisik)
Tuntutan fisik adalah stres
siswa yang bersumber dari lingkungan fisik sekolah.
·
Task
Demands (Tututan Tugas)
Task demands dalam
konsep stres akademik dapat diartikan sebagai tugas-tugas pelajaran yang harus
dikerjakan atau dihadapi oleh peserta didik yang dapat menimbukan perasaan
tertekan atau stres.
·
Role
Demands ( Tuntutan Peran)
Dimensi ketiga dari stresor
adalah behubungan dengan peran yang di pikul oleh siswa.sekumpulan kewajiban
yang di harapkan di penuhi oleh masing masing individu sesuai dengan posisinya
inilah yang disebut dengan peran.
·
Interpersonal
Demands ( Tuntutan Intapersonal)
Keberhasilan siswa
disekolah banyak ditentukan oleh kemampuannya mengelola interaksi sosial namun,
interaksi sosial disekolah merupakan salah kepribadian siswa, namun disisi lain
interaksi sosial disekolah ini juga dapat menjadi sumber stres bagi mereka.
3.
Upaya
mengatasi problem stres Sekolah yang Dialami Peserta Didik
Stres
pada hakikatnya tidak bisa dihilangkan sama sekali, kecuali hanya bisa
direduksi atau diturunkan intensitasnya, sehingga berada pada batas-batas
toletransi atau tidak sampai membahayakan dan menimbulkan dampak yang negatif
bagi kehidupan manusia.
Dalam
upaya menanggulangi atau menangani kondisi stres peserta didik, sekolah sebagai
intitusi pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengatasi stres yang
dialami peserta didik.
a.
Menciptakan
iklin sekolah yang kondusif.
Iklim
sekolah adalah situasi atau suasana yang muncul akibat hubungan antara kepala
sekolah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan peserta didik, dan hubungan
antar peserta didik, yang memengaruhi sikap (atittude), kepercayaan (believe),
nilai (values), motivasi, dan prestasi orang-orang yang terlibat dalam suatu
(sekolah) tertentu.(Seperti, Hanushek, 1995; Bobbi De Porter, 2001; Hoi dan
Miskel, 2001; Sachney, 2004), menyarankan pada pihak sekolah agar mampu
menciptakan iklim sekolah yang sehat dan menyenangkan, yang memungkinkan siswa
dapat menjalin interaksi sosial secara memadai di lingkungan sekolah.
b.
Melaksanankan
Program Pelatihan Penanggulangan Stres
Inokulasi
stres merupakan salah satu strategi atau teknik kognitif-perilaku
(cognitive-behavior) dalam program-program terapi dan konseling.Pendekatan
kognitif-perilaku dikembangkan atas prinsip dasar bahwa pola pemikiran manusia
terbentuk melalui proses rangkaian stimulus-kognisi-respons (SKR), yang saling
berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia (Oemarjoedi,
2003) dalam rangkaian SKR ini, proses kognitif memainkan peranan penting dan
menjadi faktor penentu dalam memengaruhi perilaku manusia.
Prinsip
dasar yang memandang proses kognitif sebagai rangkaian terpadu dengan perilaku
manusia tersebut, kemudian diimplementasikan ke dalam program-program terapi
dan konseling, sehingga melahirkan apa yang dikenal dengan “Terrapi
Kognitif-Perilaku (Cognitive-Behavioral Therapy)”.
Konsep
inokulasi stres ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dapat meningkatkan
kapasitas diri dalam mengatasi stres dengan cara mengubah keyakinan dan
pernyataan diri tentang keberhasilan menghadapi stres.
Menurut
Deffenbacher (1988), training inokulasi stres adalah suatu paradigma konseling
yang sangat menjanjikan bagi psikoedukasional dan progran prevensi. Karena
training inokulasi stres dapat diadaptasi dengan mudah untuk kelonpok
interfensi, maka ia sangat cocok untuk dipergunakan sebagai bagian dari
upaya-upaya psikologi pendidikan yang terencana (Huebner, 1988).
c.
Mengembangkan
Ressiliensi Peserta Didik
Resiliensi
merupakan salahsatu aspek potensi yang perlu dikembangkan dalam diri peserta
didik karena resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam
berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial,
akademis, kompetensi vokasonal, dan bahkan dengan tekanan hebat yang inheren
dalam dunia sekarang sekalipun.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
data-data di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam proses belajar
mengajar tidak semuanya berjalan dengan wajar, karna ada beberapa anak yang
memiliki permasalahan dalam belajar yang perlu mendapat perhatian khusus.
Diantaranya, maladaptif yaitu kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek
identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikisosial kepribadian
pada masa dewasa yang harmonis, dan stres akademik yaitu kondisi dinamis saat
individu dihadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan
apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang pasti dan
penting dalam bidang akademik.
B.
Implikasi
sebagai Pendidik
Kita sebagai
calon pendidik sudah sepatutnya mengetahui hal-hal yang menjadi penyebab
permasalahan dalam belajar, ciri ciri siswa yang bermasalah dan cara cara
menanganinya secara khusus. Karna setiap manusia sesungguhnya memiliki
kebutuhanya masing masing termasuk dalam bidang pendidikan, setiap siswa pun
memiliki kebutuhanya masing masing untuk dapat menerima materi dengan baik. Dan
untuk mewujudkan itu, setiap pendidik harus di bekali ilmu tentang permasalahan
belajar dan memikirkan cara yang tepat untuk di aplikasikan pada siswa yang
membutuhan perhatian khusus karna permasalahannya dalam belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad,
Abu, Widodo Supriyono, 2004. Psikologi
Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Ahmad, Hariadi. 2011 :Analisis Tingkah Laku APTL [online].
Tersedia: http://hariadimemed.blogspot.com/2011/06/hakekat-analisis-tingkah-laku-aptl.html
Desmita,
2009.Psikologi PerkembanganPeserta Didik.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Fudz. 2012: Mengembangkan Regulasi Diri Siswa [online].Tersedia :
http://fudz-iainj.blogspot.com/2012/05/mengembangkanregulasi-diri-siswa.html
Khairani,
Makmun, 2013. Psikologi Umum.
Yogyakarta : Aswaja Pressindo
Mc.Quade,
Walter dan Ann Alkman.Stres
(Terjemahan). Erlangga.
Raiyana, Mus’ab, 2013: Perilaku Maladaptif [online] Tersedia: http://akuyaraiyana.wordpress.com/
Santrok,
J.W. 2011.Educational psychology
(second edition). NY: McGraw Hill
Slavin,
R.E. 2006. Educational Psychology: Theory
and practice (edisi sembilan). Pearson Education, Inc. : New York
Tarsidi, D. 2007. Pendidikan Inklusi Sebagai Satu Inovasi
Kependidikan Untuk Mewujudkan Pendidikan Untuk Semua [online] Tersedia :
http://d-tarsidi.blogspot.com

Comments
Post a Comment